
Gizi dan Kesehatan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya masalah gizi dan kesehatan masyarakat, sangat
kompleks. Secara sederhana dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor yang
saling berinteraksi, yaitu :
1. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga
yaitu kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan, dan ini sangat
terkait dengan daya beli keluarga.
2. Pola asuhan gizi keluarga yaitu kemampuan
keluarga untuk memberikan makanan bayi dan anak, khususnya menyusui
secara ekslusif dan pemberian makanan pendamping ASI. Pola asuhan gizi
keluarga sangat terkait dengan upaya keluarga untuk memelihara kesehatan
bayi dan balita serta menjaga lingkungan yang sehat.
3. Akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas,
yaitu pemanfaatan fasilitas kesehatan dan upaya kesehatan berbasis
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif seperti penimbangan balita di
posyandu, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan bayi dan balita,
suplementasi vitamin A dan Makanan Pendamping ASI, imunisasi dan
sebagainya.
Dari ketiga faktor tersebut jelas perbaikan gizi
dan kesehatan sangat terkait dengan perbaikan sektor lain, terutama
pangan, daya beli dan pendidikan. Masalah gizi dan kesehatan tidak akan
bisa ditanggulangi hanya dengan pendekatan pengobatan atau kuratif saja,
tetapi harus mengedepankan upaya-upaya pencegahan dan peningkatan.
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan
pelayanan kesehatan saja.
Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor,
oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai
sektor yang terkait. Masalah gizi, meskipun sering berkaitan dengan
masalah kekurangan pangan, pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan
produksi dan pengadaan pangan. Pada kasus tertentu, seperti dalam
keadaan krisis (bencana kekeringan, perang, kekacauan sosial, krisis
ekonomi), masalah gizi muncul akibat masalah ketahanan pangan di tingkat
rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga memperoleh makanan untuk
semua anggotanya.
Menyadari hal itu, peningkatan status gizi
masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat
untuk memperoleh makanan yang cukup jumlah dan mutunya. Dalam konteks
itu masalah gizi tidak lagi semata-mata masalah kesehatan tetapi juga
masalah kemiskinan, pemerataan, dan masalah kesempatan kerja. Masalah
gizi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih didominasi
oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA)
dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar. Pada Widya Karya
Nasional Pangan dan Gizi tahun 1993, telah terungkap bahwa Indonesia
mengalami masalah gizi ini yang artinya sementara masalah gizi kurang
belum dapat diatasi secara menyeluruh, udah muncul masalah baru, yaitu
berupa gizi lebih.
Di samping masalah tersebut di atas, diduga ada
masalah gizi mikro lainnya seperti defisiensi Zink yang sampai saat ini
belum terungkapkan, karena adanya keterbatasan Iptek Gizi, Secara umum
masalah gizi di Indonesia, terutama KEP, masih lebih tinggi daripada
negara ASEAN lainnya. Pada tahun 1995 sekitar 35,4% anak balita di
Indonesia menderita KEP (persen median berat menurut umur <80%)
(Ruhyana, 2008).






0 komentar:
Posting Komentar